Category Here : Artikel Dosen

Faktor2 Yang Mempengaruhi Pengetahuan Mahasiswi Kebidanan Tentang Partograf Di Akbid Keris Husada

Vivamus molestie gravida turpis

FACTORS AFFECTING THE KNOWLEDGE

OF MIDWIFERY STUDENTS ABOUT PARTOGRAPHS

AT THE MIDWIFERY ACADEMY KERIS HUSADA

YEAR 2014

By: Dewi Puspita

ABSTRACT

Background: Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) is a major indicator of the International health sector development. Based on the Indonesian Demographic and Health Survey (DHS), the Maternal Mortality Rate (MMR) in Indonesia decreased slowly from 307/100,000 live births in the year 2002/2003 to 270/100,000 live births in the year 2004, and 262/100,000 live births in the year 2005, 248/100,000 live births in the year 2007, while in the year 2012, it became 359/100,000 live births.

Objective:To determine the factors influencing the knowledge of midwifery students about partographs at the Midwifery Academy KerisHusada in the year 2014.

Method:This study used a cross-sectional method. Given the limitations of time and effort, the writer only examined five variables, such as: education, economy, resources, interest, and experience.

Result:Of the 84 respondents who have been examined, there were 19 respondents (41,3%) who have more knowledge at level III in the education variable (grade level); In the economic variable (income parents), the 22 respondents (34,4%) who had high income also had more knowledge; In the resource variable, health personnel had good knowledge of resources, the amount were 21 respondents (38,2%); In the interest variable (obstetrics department), the students who have an interest were also have more knowledge and they were consists of 23 respondents (37.1%); In the experience variable (clinical practice), the students who have experience of the PKK II have more knowledge and they were consists of 19 respondents (41.3%). The chi-square result of relationship between the knowledge and the education gained Xhit 13.99. The chi-square result of relationship between the knowledge and the economic gained Xhit 1.91. The chi-square result of relationship between the knowledge and the resources gained Xhit 7.16. The chi-square result of relationship between the knowledge and the interest gained Xhit 51.62. The chi-square result of relationship between the knowledge and the experience gained Xhit 13.99.

ConclusionandSuggestion: There was nosignifican trelationship between theeconomic variable sandresources ;In addition, there was asignifican trelationship among theeducation variable, interest, and experience. Suggestions for the respondents, midwifery student isexpectedto learnand practicea lot more abou tpartograph sand to utilize as much time as possible during the learning process aswell aspossible.

Keywords: Knowledge, Partographs, MidwiferyStudent

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah indikator utama pembangunan sektor kesehatan Internasional. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menurunsecaralambat dari angka 307/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002/2003 menjadi 270/100.000 kelahiran hidup  pada tahun 2004, 262/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2005, 248/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 sedangkan Pada tahun 2012 menjadi  359/100.000 kelahiran hidup.

Tingginya angka kesakitan dan kematian ibu, dipengaruhi oleh penyebab langsung yaitu perdarahan (28%), hipertensi dalam kehamilan (24%), infeksi (11%), abortus tak aman (5%), persalinan lama (5%) dan penyebab tidak langsung (27 %). Semua penyebab tersebut digolongkan sebagai penyulit atau komplikasi yang sebenarnya dapat dihindarkan apabila kehamilan dan persalinan direncanakan, diasuh dan dikelola dengan benar (Depkes RI, 2009).

Untuk mengantisipasi terjadinya kematian ibu dan bayi baru lahirsaat proses persalinan, bidan diwajibkan menggunakan partograf setiap menolong persalinan. Sesuai dengan kompetensi bidan yang keempat yaitu asuhan selama persalinan dan kelahiran, bidan dalam melakukan pemantauan kemajuan persalinan harus menggunakan partograf. Partograf dapat digunakan untuk mendeteksi masalah dan penyulit sesegera mungkin, menatalaksana masalah dan merujuk ibu dalam kondisi gawat darurat (Depkes RI, 2008).

Berdasarkan keadaan tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui sejauh mana Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Mahasiswi Kebidanan Tentang Partograf  Di Akademi Kebidanan Keris Husada Jakarta Tahun 2014.

PEMBAHASAN

 A. Pengetahuan Mahasiswi Kebidanan Tentang Partograf

Tingkat pengetahuan mahasiswi tingkat II dan tingkat III mengenai partograf yaitu yang berpengetahuan cukup sebanyak 40 responden (47,6%), yang pengetahuan baik sebanyak 25 responden (29,8%), sedangkan yang berpengetahuan kurang sebanyak 19 responden (22,6%) dari 84 responden.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indra penglihatan, indra pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Dimana sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmojo, 2003).

Menurut pendapat penulis berdasarkan penelitian yang telah dilakukan yakni hasil terbesar berpengetahuan cukup. Hal ini dikarenakan responden yang di teliti secara heterogen tingkatannya (beda tingkat kelas).

 

B. Analisis Bivariat

1. Hubungan antara pengetahuan tentang partograf dengan pendidikan (tingkatan kelas)

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti bahwa berdasarkan analisis bivariat proporsi terjadinya pengetahuan mahasiswi tingkat II dan tingkat III tentang patrograf lebih banyak yang berpengetahuan baik pada tingkat III yaitu sebanyak 19 responden (41,3%).Berdasarkan analisis bivariat yang dilakukan dengan menggunakan uji chi square, Hasil uji statistic di peroleh X²  hitung sebesar 13,36 ( X² tabel sebesar 5,99 ) artinya X² hitung lebih  > dari X² tabel dengan db = 2 dan α 5% sehingga dapat disimpulkan tolak Ho yaitu ada hubungan yang bermakna antara tingkatan kelas dengan pengetahuan mahasiswi tentang partograf di Akademi Kebidanan Keris Husada Jakarta tahun 2014.

Menurut teori bahwa suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Namun perlu ditekankan bahwa seseorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula, peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal. (menurut Notoatmojo, 2007).

Menurut pendapat penulis mengungkapkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswi kebidanan terhadap partograf berhubungan dengan tingkatan kelas atau semester yang lebih tinggi.Karena semakin tinggi pendidikan seseorang semakin banyak informasi, pengetahuan, dan pengalaman yang di dapat.

2. Hubungan antara pengetahuan tentang partograf dengan ekonomi (pendapatan orang tua)

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti bahwa berdasarkan analisis bivariat proporsi terjadinya pengetahuan mahasiswi kebidanan tentang patrograf lebih banyak yang berpengetahuan baik yaitu pada penghasilan orang tua Rp.2.200.000 sebanyak 22responden (34,4%). Berdasarkan analisis bivariat yang dilakukan dengan menggunakan uji chi square, Hasil uji statistic di peroleh X²  hitung sebesar 3,92 ( X² tabel sebesar 5,99 ) artinya X² hitung lebih  < dari X² tabel dengan db = 2 dan α 5% sehingga dapat disimpulkan gagal tolak Ho yaitu tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkatan kelas dengan pengetahuan mahasiswi tentang partograf di Akademi Kebidanan Keris Husada Jakarta tahun 2014.

Menurut teori bahwa menurut Notoadmodjo (2003), yang sering dilakukan berhubungan dengan pendapatan/penghasilan adalah menilai hubungan antara tingkat pendapat/penghasilan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar transport, dan sebagainya.

Menurut pendapat penulis tidak ada hubungan antara pengetahuan tentang partograf dengan ekonomi (pendapatan orang tua). Hal ini di karena sebagian besar mahasiswi sudah terpapar informasi dari materi kuliah yang diberikan oleh staf dosen, teman sekelas atau tenaga kesehatan, sehingga banyak mahasiswi yang tidak memanfaatkan fasilitas yang di sediakan orang tua sebagai penunjang mencari tahu informasi tentang partograf.

3. Hubungan antara pengetahuan tentang partograf dengan sumber informasi

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti bahwa berdasarkan analisis bivariat proporsi terjadinya pengetahuan mahasiswi tentang patrograf berdasarkan sumber informasi lebih banyak yang berpengetahuan baik pada sumber informasi dengan tenaga kesehatan yaitu sebanyak 21 responden (38,2%). Berdasarkan analisis bivariat yang dilakukan dengan menggunakan uji chi square, Hasil uji statistikdi peroleh X²  hitung sebesar 8,68 ( X² tabel sebesar 9,48 ) artinya X² hitung lebih < dari X²  tabel dengan db = 4 dan α 5% sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara sumber informasi dengan pengetahuan mahasiswi tentang partograf di Akademi Kebidanan Keris Husada Jakarta tahun 2014.

Menurut teori bahwa Informasi yang diperoleh dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana komunikasi berbagai bentuk media massa seperti radio, televisi, surat kabar, majalah yang mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayaan semua orang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai suatu hal memberikan landasan kognitif baru terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut (Erfandi, 2009).

Menurut pendapat penulis yakni mengungkapkan bahwa tingkat pengetahuan seseorang terhadap partograf  tidak berhubungan dengan sumber informasi. Hal ini dikarena sebagian besar mahasiswi sudah terpapar informasi dari materi kuliah yang diberikan oleh staf dosen, teman sekelas atau dari kakak kelasnya sehingga mahasiswi tidak mencaritahu lewat media lain seperti media cetak atau elektronik.

4. Hubungan antara pengetahuan tentang partograf dengan minat (Jurusan Kebidanan)

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penelitibahwa berdasarkan analisis bivariat proporsi terjadinya pengetahuan mahasiswi tentang partograf berdasarkan minat (jurusan kebidanan) lebih banyak yang berpengetahuan baik pada mahasiswi yang memiliki minat yaitu sebanyak 23 responden (37,1%). Berdasarkan analisis bivariat yang dilakukan dengan menggunakan uji chi square, Hasil uji statistikdi peroleh X²  hitung sebesar 49,25 ( X² tabel sebesar 5,99 ) artinya X² hitung lebih > dari X²  tabel dengan db = 2 dan α 5% sehingga dapat disimpulkan tolak Ho yaitu ada hubungan yang bermakna antara minat (jurusan kebidanan) dengan pengetahuan mahasiswi tentang partograf di Akademi Kebidanan Keris Husada Jakarta tahun 2014.

Menurut teori bahwa Minat sangat besar pangaruhnya dalam mencapai prestasi dalam suatu pekerjaan, jabatan, atau karir. Tidak akan mungkin orang yang tidak berminat terhadap suatu pekerjaan dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik. Minat dapat  diartikan  sebagai  rasa  senang  atau  tidak  senang  dalam  menghadapi suatu objek (Mohamad Surya, 2003. Minat  berkaitan  dengan  perasaan  suka  atau  senang  dari  seseorang terhadap  sesuatu  objek.  Hal  ini  seperti  dikemukakan  oleh  Slameto  (2003) yang menyatakan bahwa minat sebagai suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada  dasarnya  adalah  penerimaan  akan  suatu  hubungan  antara  diri  sendiri dengan  sesuatu  di  luar  diri.  Semakin  kuat  atau  dekat  hubungan  tersebut, semakin besar minat.

Menurut pendapat penulis berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengungkapkan bahwa tingkat pengetahuan seseorang terhadap partograf berhubungan dengan minatnya masuk pada jurusan kebidanan. Karena minat berikatan dengan rasa kesenangan seseorang tanpa pengaruh orang lain. Oleh karena itu dapat menambah motivasi keingintauannya dalam hal ini adalah motivasi belajar.

5. Hubungan antara pengetahuan tentang partograf dengan pengalaman (praktik klinik)

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti bahwa berdasarkan analisis bivariat proporsi terjadinya pengetahuan mahasiswi tentang partograf berdasarkan pengalaman PKK lebih banyak yang berpengetahuan baik pada mahasiswi yang memiliki pengalaman PKK II yaitu  sebanyak 19 responden (41,3%). Berdasarkan analisis bivariat yang dilakukan dengan menggunakan uji chi square, Hasil uji statistic di peroleh X²  hitung sebesar 13,36 ( X² tabel sebesar 5,99 ) artinya X² hitung lebih  > dari X² tabel dengan db = 2 dan α 5% sehingga dapat disimpulkan tolak Ho yaitu ada hubungan yang bermakna antara Pengalaman PPK dengan pengetahuan mahasiswi tentang partograf di Akademi Kebidanan Keris Husada Jakarta tahun 2014.

Menurut teori bahwa Pengalaman ialah sesuatu yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung dan sebagainya) bisa berupa peristiwa yang baik maupun peristiwa yang buruk (KBBI, 2005).Pengalaman adalah guru yang terbaik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan, atau pengalaman merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu, pengalaman pribadi yang dialami oleh seseorang dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan dan informasi. Biasanya, orang akan lebih mudah mengingat peristiwa atau hal-hal yang dianggap paling berkesan atau bermakna dalam hidupnya.

Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Devi Eka Sakti (2008) yaitu pengalaman menstruasi pertama siswi SMP Darul Ma’Arif Jakarta selatan.Dari hasil penelitian yang dilakukan Devi Eka Sakti (2008) yakni semakin banyak pengalaman remaja putri yang mengalami menstruasi semakin banyak pula pengetahuan yang di ketahui tentang menstruasi.

Menurut pendapat penulis berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengungkapkan bahwa tingkat pengetahuan seseorang terhadap partograf berhubungan dengan pengalaman (praktik klinik). Karena makin banyak pengalaman praktik klinik seorang mahasiswi kebidanan makin banyak pula pengetahuan yang di dapat.

KESIMPULAN

Berdasarkan Hasil Penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut

a.    Proporsi pengetahuan mahasiswi kebidanan tentang partograf yang paling banyak berpengetahuan cukup yaitu 40 responden (47,6%) dari 84 responden

b.   Distribusifrekuensi pendidikan (tingkatan kelas) lebih banyak yang berpengetahuan baik pada tingkat III yaitu sebanyak 19 responden (41,3%), ekonomi (pendapatan orang tua) lebih banyak yang berpengetahuan baik pada penghasilan orang tua yang tinggi yaitu sebanyak 22 responden (34,4%), sumber informasi lebih banyak yang berpengetahuan baik pada sumber informasi dengan tenaga kesehatan yaitu sebanyak 21  responden (38,2%), minat (jurusan kebidanan) lebih banyak yang berpengetahuan baik pada mahasiswi yang  memiliki minat yaitu sebanyak 23 responden (37,1%), pengalaman (praktik klinik) lebih banyak yang berpengetahuan baik pada mahasiswi yang memiliki pengalaman PKK II yaitu  sebanyak 19 responden (41,3%) pada mahasiswi kebidanan tentang partograf di Akademi Kebidanan Keris Husada Jakarta tahun 2014.

c.    Ada hubungan antara pendidikan (tingkatan kelas), minat (jurusan kebidanan), pengalaman (praktik klinik) dengan pengetahuan mahasiswi kebidanan tentang partograf di Akademi Kebidanan Keris Husada Jakarta tahun 2014.

d.   Tidak ada hubungan antara ekonomi (pendapatan orang tua), sumber informasi dengan pengetahuan mahasiswi kebidanan tentang partograf di Akademi Kebidanan Keris Husada Jakarta tahun 2014.

  DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik (Revisi VI). Jakarta : Rineka Cipta.

Buku Acuan Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal, JNPK-KR, Jakarta. 2008.

Fakultas Kedokteran UNPAD.2004, Obstetri Fisiolofi, Eleman, Bandung.

Hidayat, Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Salemba Medika, Jakarta.

IBI, 2004. Definisi Bidan. Depkes RI, Jakarta.

Mubarak, Wahit Iqbal, dkk. 2007. Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar Proses Belajar Mangajar dalam Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

 

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Ilmu Kesehatan Masyarakat.Rineka Cipta. Jakarta.

__________

# ShutDown